Permasalahan Lingkungan Sekitar


1.      1. Momok Polimer terhadap Lingkungan

Ancaman krisis sampah plastik di Indonesia sudah di depan mata, plastik telah menjadi permasalahan yang krusial disekitar kita. Hal sederhananya, kantong plastik. Kantong plastik memiliki fungsi untuk mengangkut barang bawaan dengan tujuan untuk memudahkan membawa barang bawaan dengan sekali angkut. Pada zaman peralihan, maksud datangnya plastik adalah guna sebagai pengganti penggunaan kantong kertas pada zaman itu. Karena, kantong kertas dianggap tidak dengan efisien. Sebagai contoh, apabila kantong kertas terkena air akan menjadi sobek atau hancur. Hal ini menyebabkan penebangan hutan secara liar sehingga menyebabkan penggundulan hutan dimana-mana karena penggunaan Kertas semakin banyak. Dengan itu, kantong kertas diganti dengan kantong plastik. Tapi, jika dilihat dengan kegunaannya kantong plastik hanya digunakan sekitar 5-10 menit untuk membawa barang, jika orang bijaksana akan melipat kresek dan menggunakan kembali kresek tersebut. Lain halnya dengan orang yang mengganggap kresek use only atau sekali pakai, setelah memakai kantong kresek akan langsung dibuang. Hal ini membuat lingkungan menjadi parah.
Banyaknya pencemaran lingkungan khususnya plastik yang ditemukan di lautan yang menyebabkan biota laut mengalami kepunahan karena terjaring plastik, parahnya hingga memakan plastik. Sehingga, suatu saat di Wakatobi, Sulawesi Tenggara ditemukan paus terdampar yang didalam perutnya penuh dengan sampah plastik. Bisa kita bayangkan bagaimana bahayanya penggunaan plastik secara berlebihan


Pemikiran masyarakat yang kurang sadar terhadap lingkungannya, ketika mengganggap sampah plastik sebagai permasalahan kecil. Contohnya, apabila ada orang dengan pemikiran membuang sampah permen sembarangan, lalu hal ini dilakukan oleh 10 orang. Sudah bisa disimpulkan bahwa sampah permen 10 telah dianggap remeh oleh masyarakat. Dengan hal sekecil ini membuat masyarakat Indonesia akan kehilangan moral dalam tindak kedisiplinan. Melakukan tindakan semena-wena.
Sehingga perlu kita tanamkan perilaku membuang sampah pada tempatnya, mengenalkan daur ulang sejak dini hingga kebijakan yang ramah lingkungan harus segera dilakukan. Ada beberapa daerah yang telah menerapkan “Bank Sampah” dengan mengumpulkan sampah plastik akan mendapatkan tabungan uang.
Lalu bagaimana cara mengatasi katong plastik? Dengan cara mengadakan kebijakan cukai dengan ketentuan Pemerintah akan menerapkan cukai plastik sebesar Rp 200 per lembar atau Rp 30 ribu per kg mulai 2020. Kebijakan ini dinilai menjadi salah satu solusi untuk menekan volume sampah di Indonesia yang mencapai 64 juta ton per tahun. Sekitar 15% dari volume sampah tersebut adalah sampah plastik. Tetapi, kebijakan cukai plastik dinilai tidak akan efektif menuntaskan masalah sampah plastik di Indonesia jika tidak dibarengi dengan edukasi kepada masyarakat dan manajemen sampah yang efektif. Sehingga, kita sebagai generasi milenial harus bisa mengajak masyarakat Indonesia untuk membuang sampah pada tempatnya dan mendaur ulangnya.
2.      2. Generasi Salah Tunduk
 Terkhnologi mengalami perubahan yang sangat signifikan, banyak penemu mengucapkan “Mari kita mulai hal yang mustahil” menandakan dewasa ini akan menciptakan  tekhnologi yang canggih. Lalu bagaimana dengan Sumber Daya Manusia (SDM)? Melihat generasi sekarang banyak sekali yang menggunakan kecanggihan tekhnologi, dengan keinginan ingin menringkas waktu, menghemat energi, memperluas jaringan pertemanan dan mendapatkan segala informasi hanya dengan genggam telepon, hal ini akan bisa dibarengi dengan generasi Z apabila bisa menggunakan gadget  dengan bijaksana


 Siapa sangka balita saja dapat menggunakan gadget dengan lancar. Ini berawal dari orang tua yang salah mendidik dikarenakan, apabila balita mengalami kejenuhan atau rewel, orang tua langsung memberikan gadgetnya dengan tujuan untuk membuat asik si balita. Dengan hal ini dapat disimpulkan bahwasanya hal yang dilakukan terus menurus akan mengakibatkan disorganisasi keluarga.
Mengapa kebanyakan generasi sekarang mengalami individual? Dikarenakan generasi sekarang mengalami salah tunduk, yang dimaksud tidak lagi tunduk, sebagai contoh jika ingin permisi akan lewat dihadapan orang yang lebih tua mereka malah acuh tak acuh terhadap lingkungan sekitar, yang menyebabkan hal ini terjadi adalah ketersediaan kecanggihan tekhnologi yang membuat generasi sekarang lebih nyaman dengan dunianya sendiri
Bagaimana cara untuk mengatasi semua itu? Dengan cara membatasi penggunaan gadget secara reguler, menciptakan kesibukkan yang dapat membuat otak fresh .

3Meratakan Jumlah Pendidikan

Pendidikan merupakan sumber kehidupan, Dalam sebuah negara, pendidikan selalu menjadi prioritas utama dalam meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Negara dengan kualitas pendidikan yang baik akan mampu mengantarkan sukses dalam pembangunan di berbagai bidang. Melalui pendidikan yang berkualitas, negara Indonesia akan memiliki bibit-bibit baru yang sehat serta berkompeten. Sayangnya, untuk mewujudkan itu saat ini masih banyak terdapat kendala yang dihadapi. Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab kegagalan mewujudkan pendidikan merata di seluruh Indonesia,beberapa di antaranya adalah:
1. Masih minimnya perhatian pemerintah untuk pelosok daerah. Hal ini bisa dilihat ketika pihak pemerintah lebih mengutamakan upaya pembangunan di berbagai sekolahan perkotaan.
2. Kurangnya sinkronisasi hubungan antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah. Pemerintah pusat terlalu fokus pada pembangunan pemerintahan yang ada, sehingga melupakan pembangunan yang ada di pemerintah daerah.
3. Masih minimnya pemerintah dalam memfasilitasi pendidikan di daerah. Dalam memberikan fasilitas, pemerintah dinilai kurang maksimal sehingga pendidikan anak di daerah terkesan asal-asalan.

Komentar